Makna Tolong Menolong
Salah satu perbuatan yang dapat dijadikan pedoman hidup kita semua adalah tolong-menolong. Manusia adalah makhluk sosial yang sejatinya memang membutuhkan pertolongan dari orang lain. Akan tetapi dewasa ini banyak sekali manusia menganggap remeh perbuatan tolong menolong, padahal perbuatan tolong menolong tersebut mampu melawan deras arus dunia yang menghanyutkan.
Sebagai gambaran, bayangkan kita sedang berjalan di trotoar sebuah jalan raya, lalu kita mendengar ada seorang wanita berteriak “Ayo dorong!!!”. Sontak sebagai manusia yang beradab kita harus segera datang ke arah teriakan wanita tersebut yang memang ternyata mobilnya mogok sehingga membutuhkan pertolongan untuk bersama mendorong mobil wanita tersebut. Hal ini merupakan hal terpuji karena dengan melakukan perbuatan tersebut, beban wanita tersebut menjadi berkurang karena ada seseorang yang membantunya.
Akan tetapi, tolong menolong jua harus melihat dari berbagai sudut pandang. Janganlah terlampau asal melakukan perbuatan tersebut. Bagaimana jika ternyata kita langsung membantu mendorong padahal kasusnya bukanlah mobil mogok, namun ternyata wanita tersebut sedang gundah gulana karena baru saja putus dengan pacarnya lalu berhasrat untuk bunuh diri dan berteriak “Ayo dorong” dengan maksud ingin ditabrak mobil. Jika ketika itu kita segera membantu mendorong wanita tersebut, maka perbuatan kita merupakan perbuatan tercela karena seharusnya yang kita lakukan adalah mengajak wanita itu berkenalan, mengajak berdialog sepatah dua patah kata dari hati ke hati dengan tujuan mengatakan bahwasanya bunuh diri adalah perbuatan yang tidak baik. Jika kita dapat melakukan dialog dengan baik maka wanita tersebut akan sependapat dengan pandangan kita sehingga wanita tersebut batal bunuh diri. Kemudian kita dapat mencoba untuk bertukar nomor telepon, mencoba mengajak jalan-jalan di lain waktu, dan bilamana gayung bersambut, mungkin kita dapat mengisi kekosongan yang ada di hati wanita tersebut.
Kasus lain. Hanya dengan mendengar wanita berteriak “Ayo dorong” lalu kita langsung merasa iba dan dengan segera mendatangi arah teriakan untuk membantu wanita tersebut. Padahal wanita tersebut merupakan pencuri di supermarket yang sedang mengharapkan bantuan untuk mendorong kereta belanjanya yang penuh dengan barang curian. Pabila kita membantu wanita tersebut maka perbuatan tolong menolong yang kita lakukan merupakan perbuatan tidak terpuji karena membantu melakukan tindakan kriminal sama sahaja dengan melakukan tindakan kriminal tersebut. Seharusnya yang kita lakukan adalah menelepon polisi, mengatakan bahwa ada wanita pencuri yang sedang beraksi di supermarket. Lantas polisi akan datang dengan segenap perasaan gegap gempita karena berhasil menemukan buronan yang mereka cari-cari sebelumnya. Pemilik supermarket akan turut berbahagia karena dengan begitu supermarketnya tidak lagi merugi. Warga sekitar pun akan bersorak sorai karena perasaan tidak aman itu sekarang menghilang seiiring ditangkapnya pencuri tersebut. Dengan melakukan hal tersebut bukan tidak mungkin kita akan diberi lencana penghargaan oleh polisi, dan dijuluki pahlawan kebenaran oleh warga kota tempat kita bernaung. Bukankah hal tersebut lebih baik.
Kasus terakhir, ketika ada wanita berteriak “Ayo dorong”, lalu kita segera mendatangi arah teriakan akan tetapi ternyata itu adalah suara teriakan wanita yang sedang bercinta dengan suaminya. Dalam hal ini kita tidak bisa membantu mendorong. Yang dapat kita lakukan adalah membantu memberikan semangat (dengan bertepuktangan atau berteriak dengan gaduh) kepada sang suami agar lebih semangat mendorong seperti yang diinginkan istrinya. Kita juga dapat menolong dengan menyiapkan segelas air minum untuk sang suami yang mungkin ditengah jalan mengalami keletihan dalam mendorong sehingga sang suami dapat beristirahat, melepas dahaga lalu melanjutkan kegiatan mendorong istrinya. Jika hal-hal tersebut belum juga dapat menolong suami, kita juga bisa memberikan beberapa tips kepada suami agar merubah posisi supaya sang istri lebih merasakan hentakan dorongan dari suami, sehingga proses tersebut cepat diselesaikan sebagaimana yang diinginkan oleh istrinya. Namun apabila semua yang telah kita lakukan belum jua dapat membantu sang suami, kita dapat menolong sang suami dengan cara memberikan tatapan penuh harap kepada sang suami. Bukan sesuatu yang tak mungkin, sang suami akan mengerti makna tatapan tersebut dan segera mengakhiri kegiatan mendorong. Lantas dia mendekati kita serta menepuk bahu kita seraya berkata “Sekarang giliranmu”, dan kita dapat menolong sang suami dalam mengabulkan keinginan istrinya.
Itulah segelintir kisah yang dapat membuka cakrawala pandangan kita semua agar kita tidak salah kaprah dalam memandang satu persoalan. Tolong menolong itu memang perbuatan terpuji namun harus dilihat dari berbagai sudut pandang. Di satu sisi dapat menguntungkan orang lain, namun disisi lain tolong menolong dapat merugikan orang lain. Semoga kita semua dapat mengambil moral dari kisah diatas dan menjadikannya pedoman hidup agar kita menjadi sosok manusia yang lebih baik.